16 Jan 2008

Java Jazz Saya Datang!!



Indonjesia bakal punya satu gelaran internasional lagi, Java Jazz 2008. Pesta jazz tahunan ini hadr kembali Maret depan. Klo taun kmaren saya cuma bisa liat di TV, sekarang saya punya kesempatan buat jadi saksi mata kehebatan jagoan-jagoan musik dunia. Bukan sebagai penonton--ya iayalah mahasiswa perantau ini-- tapi jadi panitia. Memang si panitia membuka kesempatan buat siapa aja yang pingin jadi volunteer. Iseng-iseng saya sama Bagus nglamar online, dan saya dipanggil buat wawancara sabtu depan! Doakan saya diterima yah :)

*=gambar di atas itu panggilan buat intervew ceritanya. sayang g jelas,,


9 Jan 2008

Bahasa Jeans dan Sneakers

Bahasa. Semua pasti tau terminologi ini. Dalam teori komunikasi ada tiga elemen yang menyusun komunikasi, yaitu pemberi pesan, penerima pesan, dan pesan atau ide itu sendiri. Bahasa adalah medium untuk menyampaikan pesan dari pengirim pesan ke si penerima. Jadi supaya pesan yang dikirim nyampai ke audiens, ada satu syarat yang harus dipenuhi: bahasanya harus sama.

Sejak berabad-abad yang lalu, setiap koloni manusia yang hidup di batas geografis tertentu punya bahasa mereka masing-masing. Mereka berusaha menciptakan medium dimana mereka bisa dengan nyaman berkomunikasi dengan yang lain, no matter penduduk di belahan bumi lain ngerti apa nggak. Mungkin ini bisa menjelaskan mengapa penghuni Teluk Andalusia berbicara bahasa Spanyol sementara penduduk Gugusan Kepulauan Pasifik tidak, misalnya. Bahasa menjadi ciri khas dan pembeda satu komunitas dengan komunitas lainnya.

Karena bahasalah manusia terhubung satu dengan yang lain. Penduduk Teluk Andalusia tadi, bisa terhubung dengan sesamanya karena berbicara bahasa yang sama, bahasa Spanyol. Bahasa menjadi sangat penting karena hanya itulah cara supaya manusia dapat saling bertukar pikiran dan perasaaan. Pepatah mengatakan untuk menguasai sebuah bangsa, kuasai dulu bahasanya. Inilah yang dipraktekkan Belanda selama 350 tahun menjajah kita. Mereka sukses memperdaya kita salah satunya karena menguasai bahasa Indonesia. Masuk akal kan..

Lebih jauh, kita mengenal bahwa untuk komunikasi ada yang namanya bahasa non verbal instead of bahasa verbal. Bahasa non verbal bisa berupa gestur atau bahasa tubuh, dressing, atau apapun yang bisa buat seseorang nyambung pas berkomunikasi sama sebuah komunitas. Ambil contoh nih ya, kalo ada acara resmi yang undangannya wajib pake pakaian formal, trus tiba-tiba ada yang pake kaos oblong, kerasa aneh ga sih? Pasti agak risih juga kan kalo ngobrol sama si nerd ini. Ini karena secara ga langsung dia nyampaiin ‘pesen’ dengan ‘bahasa’ yang beda sama yang udah disepakati bareng-bareng, yaitu ‘bahasa pakaian formal’.

Begitu juga dengan anak muda, mereka punya bahasa verbal dan non verbal mereka sendiri. Bahasa verbal bisa berupa logat, slang, jenis becandaan dll. Yang mau saya ceritain dari sini adalah keunikan bahasa non verbal mereka. Sejauh pengamatan saya, banyak banget anak seumuran saya yang pake jeans dan sneakers ke kampus atau kemanalah. Lebih dari sekedar tren, saya menyebut jeans dan sneakers sebagai ‘bahasa’ anak muda. Ada sebuah komunitas besar yang ga terikat ruang dan waktu, tersebar dari Amerika sampai Indonesia, dari jamannya flower generation sampai era IT sekarang, yang berbicara dengan ‘bahasa jeans dan sneakers’. Dengan bahasa ini mereka berkomunikasi satu sama lain, menerima orang baru yang datang dengan bahasa yang sama, membuat komunitas ini semakin besar dan besar. Bagi saya sendiri, tanpa sadar saya lebih nyaman berada sama mereka yang memakai jeans dan sneakers. Satu barrier terlewati dan saya lebih enjoy untuk memulai percakapan verbal. Ahaha, gaya benar saya ini. Sok jadi pengamat. Tapi, silahkan amati;)



9 Dec 2007

Seni = Kambing Hitam

Ini cerita saya habis kuliah Metode Penelitian kamis kemarin. Pak Hastu dosen saya nerangin statistik, survei, sampel, populasi dan semacamnya. Beliau ngejelasin macem-macem metode survei dari simple random sampling sampai multi stage cluster. Sebagai contoh dia ngasi perbandingan quick count yang dilakuin LSI, UI dan hasil perhitungan manual KPUD dalam Pilkada DKI yang dimenangin Fauzi Bowo beberapa waktu lalu. Intinya dengan pemilihan sampel yang tepat, kita bisa nebak hasil Pilkada dengan akurat. Dalam bahasa statistik, sampel yang dipilih mampu merepresentasikan populasi.

Pertanyaan saya, yang dijadiin sampel kan ribuan Tempat Pemungutan Suara (TPS) tuh. Gimana caranya milih sampel yang tepat, atau kalau dalam bahasa statistik tadi, sampel yang dapat merepresentasikan populasi? Dosen saya menjawab “Nah itu seninya memilih sampling..” He??

Saya penasaran kenapa di ilmu statistik yang udah muncul ratusan taun, yang semakin kesini pastinya semakin advance, ada pertanyaan sederhana yang ga bisa dijawab? Dan fenomena “hal sederhana yang ga terjawab” ini ternyata berlaku di banyak kesempatan.

Misalnya nih ya, di sebuah organisasi yang basic ilmunya, ilmu kepemimpinan, udah dipelajari sejak manusia berkoloni di bumi, kadang terjadi situasi dimana anggota ga lagi nurut sama ketuanya. Lalu timbul pertanyaan sederhana, “Qo anggotanya ga nurut sih?”. Jawabannya pasti “Nah itu seninya jadi pemimpin!!”

HIpotesis saya, seni adalah kambing hitam, hehe. Maksudnya di berbagai disiplin ilmu atau hal apapun, ada prosedur yang harus diikuti sebagai cara buat mengaplikasikan teori ke dalam praktek. Tapi pada kondisi tertentu ada hal-hal yang ga bisa diterangin sama teori. Untuk hal-hal yang sifatnya di luar domain sebuah ilmu tadi, kita lalu seenaknya menyebutnya “seni”. Hoho, kasian sekali seni ini. Jadi alasan kalo kita udah mentok di satu masalah. Tapi gapapa, itu seninya jadi seni, haha..