9 Jan 2008

Bahasa Jeans dan Sneakers

Bahasa. Semua pasti tau terminologi ini. Dalam teori komunikasi ada tiga elemen yang menyusun komunikasi, yaitu pemberi pesan, penerima pesan, dan pesan atau ide itu sendiri. Bahasa adalah medium untuk menyampaikan pesan dari pengirim pesan ke si penerima. Jadi supaya pesan yang dikirim nyampai ke audiens, ada satu syarat yang harus dipenuhi: bahasanya harus sama.

Sejak berabad-abad yang lalu, setiap koloni manusia yang hidup di batas geografis tertentu punya bahasa mereka masing-masing. Mereka berusaha menciptakan medium dimana mereka bisa dengan nyaman berkomunikasi dengan yang lain, no matter penduduk di belahan bumi lain ngerti apa nggak. Mungkin ini bisa menjelaskan mengapa penghuni Teluk Andalusia berbicara bahasa Spanyol sementara penduduk Gugusan Kepulauan Pasifik tidak, misalnya. Bahasa menjadi ciri khas dan pembeda satu komunitas dengan komunitas lainnya.

Karena bahasalah manusia terhubung satu dengan yang lain. Penduduk Teluk Andalusia tadi, bisa terhubung dengan sesamanya karena berbicara bahasa yang sama, bahasa Spanyol. Bahasa menjadi sangat penting karena hanya itulah cara supaya manusia dapat saling bertukar pikiran dan perasaaan. Pepatah mengatakan untuk menguasai sebuah bangsa, kuasai dulu bahasanya. Inilah yang dipraktekkan Belanda selama 350 tahun menjajah kita. Mereka sukses memperdaya kita salah satunya karena menguasai bahasa Indonesia. Masuk akal kan..

Lebih jauh, kita mengenal bahwa untuk komunikasi ada yang namanya bahasa non verbal instead of bahasa verbal. Bahasa non verbal bisa berupa gestur atau bahasa tubuh, dressing, atau apapun yang bisa buat seseorang nyambung pas berkomunikasi sama sebuah komunitas. Ambil contoh nih ya, kalo ada acara resmi yang undangannya wajib pake pakaian formal, trus tiba-tiba ada yang pake kaos oblong, kerasa aneh ga sih? Pasti agak risih juga kan kalo ngobrol sama si nerd ini. Ini karena secara ga langsung dia nyampaiin ‘pesen’ dengan ‘bahasa’ yang beda sama yang udah disepakati bareng-bareng, yaitu ‘bahasa pakaian formal’.

Begitu juga dengan anak muda, mereka punya bahasa verbal dan non verbal mereka sendiri. Bahasa verbal bisa berupa logat, slang, jenis becandaan dll. Yang mau saya ceritain dari sini adalah keunikan bahasa non verbal mereka. Sejauh pengamatan saya, banyak banget anak seumuran saya yang pake jeans dan sneakers ke kampus atau kemanalah. Lebih dari sekedar tren, saya menyebut jeans dan sneakers sebagai ‘bahasa’ anak muda. Ada sebuah komunitas besar yang ga terikat ruang dan waktu, tersebar dari Amerika sampai Indonesia, dari jamannya flower generation sampai era IT sekarang, yang berbicara dengan ‘bahasa jeans dan sneakers’. Dengan bahasa ini mereka berkomunikasi satu sama lain, menerima orang baru yang datang dengan bahasa yang sama, membuat komunitas ini semakin besar dan besar. Bagi saya sendiri, tanpa sadar saya lebih nyaman berada sama mereka yang memakai jeans dan sneakers. Satu barrier terlewati dan saya lebih enjoy untuk memulai percakapan verbal. Ahaha, gaya benar saya ini. Sok jadi pengamat. Tapi, silahkan amati;)



2 comments:

Anonymous said...

ka,,,,
klo cah itb dolan ma cah ugm pake bahasa nya apa ya?!

Anonymous said...

Apa seeh gus?,,