12 Jun 2008

The Heart of Life is Good

Berhubung hati saya lagi lemah, jadi dari kemaren buat ngehibur hati saya denger lagu-lagu mellow mulu. Walo kebanyakan bikin saya makin terjerumus dalam sedih tak berujung, tapi ada juga yang ok. Satu lagu yang diputer berulang-ulang di komputer saya lagunya John Mayer yang judulnya The Heart of Life. Reffnya gini nih

... Pain throws you heart to the ground
Love turns the whole thing around
No, it won't all go the way, it should
But I know the heart of life is good...

Hmm ya ya ya, walo banyak rintangan menjatohkan diri, John Mayer bilang kalau the heart of life is good. Hidup ini menyenangkan qo, dibawa asik aja, mungkin begitu terjemahan bebasnya. Yeah I know the heart of life is good...

16 Jan 2008

Java Jazz Saya Datang!!



Indonjesia bakal punya satu gelaran internasional lagi, Java Jazz 2008. Pesta jazz tahunan ini hadr kembali Maret depan. Klo taun kmaren saya cuma bisa liat di TV, sekarang saya punya kesempatan buat jadi saksi mata kehebatan jagoan-jagoan musik dunia. Bukan sebagai penonton--ya iayalah mahasiswa perantau ini-- tapi jadi panitia. Memang si panitia membuka kesempatan buat siapa aja yang pingin jadi volunteer. Iseng-iseng saya sama Bagus nglamar online, dan saya dipanggil buat wawancara sabtu depan! Doakan saya diterima yah :)

*=gambar di atas itu panggilan buat intervew ceritanya. sayang g jelas,,


9 Jan 2008

Bahasa Jeans dan Sneakers

Bahasa. Semua pasti tau terminologi ini. Dalam teori komunikasi ada tiga elemen yang menyusun komunikasi, yaitu pemberi pesan, penerima pesan, dan pesan atau ide itu sendiri. Bahasa adalah medium untuk menyampaikan pesan dari pengirim pesan ke si penerima. Jadi supaya pesan yang dikirim nyampai ke audiens, ada satu syarat yang harus dipenuhi: bahasanya harus sama.

Sejak berabad-abad yang lalu, setiap koloni manusia yang hidup di batas geografis tertentu punya bahasa mereka masing-masing. Mereka berusaha menciptakan medium dimana mereka bisa dengan nyaman berkomunikasi dengan yang lain, no matter penduduk di belahan bumi lain ngerti apa nggak. Mungkin ini bisa menjelaskan mengapa penghuni Teluk Andalusia berbicara bahasa Spanyol sementara penduduk Gugusan Kepulauan Pasifik tidak, misalnya. Bahasa menjadi ciri khas dan pembeda satu komunitas dengan komunitas lainnya.

Karena bahasalah manusia terhubung satu dengan yang lain. Penduduk Teluk Andalusia tadi, bisa terhubung dengan sesamanya karena berbicara bahasa yang sama, bahasa Spanyol. Bahasa menjadi sangat penting karena hanya itulah cara supaya manusia dapat saling bertukar pikiran dan perasaaan. Pepatah mengatakan untuk menguasai sebuah bangsa, kuasai dulu bahasanya. Inilah yang dipraktekkan Belanda selama 350 tahun menjajah kita. Mereka sukses memperdaya kita salah satunya karena menguasai bahasa Indonesia. Masuk akal kan..

Lebih jauh, kita mengenal bahwa untuk komunikasi ada yang namanya bahasa non verbal instead of bahasa verbal. Bahasa non verbal bisa berupa gestur atau bahasa tubuh, dressing, atau apapun yang bisa buat seseorang nyambung pas berkomunikasi sama sebuah komunitas. Ambil contoh nih ya, kalo ada acara resmi yang undangannya wajib pake pakaian formal, trus tiba-tiba ada yang pake kaos oblong, kerasa aneh ga sih? Pasti agak risih juga kan kalo ngobrol sama si nerd ini. Ini karena secara ga langsung dia nyampaiin ‘pesen’ dengan ‘bahasa’ yang beda sama yang udah disepakati bareng-bareng, yaitu ‘bahasa pakaian formal’.

Begitu juga dengan anak muda, mereka punya bahasa verbal dan non verbal mereka sendiri. Bahasa verbal bisa berupa logat, slang, jenis becandaan dll. Yang mau saya ceritain dari sini adalah keunikan bahasa non verbal mereka. Sejauh pengamatan saya, banyak banget anak seumuran saya yang pake jeans dan sneakers ke kampus atau kemanalah. Lebih dari sekedar tren, saya menyebut jeans dan sneakers sebagai ‘bahasa’ anak muda. Ada sebuah komunitas besar yang ga terikat ruang dan waktu, tersebar dari Amerika sampai Indonesia, dari jamannya flower generation sampai era IT sekarang, yang berbicara dengan ‘bahasa jeans dan sneakers’. Dengan bahasa ini mereka berkomunikasi satu sama lain, menerima orang baru yang datang dengan bahasa yang sama, membuat komunitas ini semakin besar dan besar. Bagi saya sendiri, tanpa sadar saya lebih nyaman berada sama mereka yang memakai jeans dan sneakers. Satu barrier terlewati dan saya lebih enjoy untuk memulai percakapan verbal. Ahaha, gaya benar saya ini. Sok jadi pengamat. Tapi, silahkan amati;)



9 Dec 2007

Seni = Kambing Hitam

Ini cerita saya habis kuliah Metode Penelitian kamis kemarin. Pak Hastu dosen saya nerangin statistik, survei, sampel, populasi dan semacamnya. Beliau ngejelasin macem-macem metode survei dari simple random sampling sampai multi stage cluster. Sebagai contoh dia ngasi perbandingan quick count yang dilakuin LSI, UI dan hasil perhitungan manual KPUD dalam Pilkada DKI yang dimenangin Fauzi Bowo beberapa waktu lalu. Intinya dengan pemilihan sampel yang tepat, kita bisa nebak hasil Pilkada dengan akurat. Dalam bahasa statistik, sampel yang dipilih mampu merepresentasikan populasi.

Pertanyaan saya, yang dijadiin sampel kan ribuan Tempat Pemungutan Suara (TPS) tuh. Gimana caranya milih sampel yang tepat, atau kalau dalam bahasa statistik tadi, sampel yang dapat merepresentasikan populasi? Dosen saya menjawab “Nah itu seninya memilih sampling..” He??

Saya penasaran kenapa di ilmu statistik yang udah muncul ratusan taun, yang semakin kesini pastinya semakin advance, ada pertanyaan sederhana yang ga bisa dijawab? Dan fenomena “hal sederhana yang ga terjawab” ini ternyata berlaku di banyak kesempatan.

Misalnya nih ya, di sebuah organisasi yang basic ilmunya, ilmu kepemimpinan, udah dipelajari sejak manusia berkoloni di bumi, kadang terjadi situasi dimana anggota ga lagi nurut sama ketuanya. Lalu timbul pertanyaan sederhana, “Qo anggotanya ga nurut sih?”. Jawabannya pasti “Nah itu seninya jadi pemimpin!!”

HIpotesis saya, seni adalah kambing hitam, hehe. Maksudnya di berbagai disiplin ilmu atau hal apapun, ada prosedur yang harus diikuti sebagai cara buat mengaplikasikan teori ke dalam praktek. Tapi pada kondisi tertentu ada hal-hal yang ga bisa diterangin sama teori. Untuk hal-hal yang sifatnya di luar domain sebuah ilmu tadi, kita lalu seenaknya menyebutnya “seni”. Hoho, kasian sekali seni ini. Jadi alasan kalo kita udah mentok di satu masalah. Tapi gapapa, itu seninya jadi seni, haha..



5 Dec 2007

Udah Gede Qo Nggak Ngrokok? (2-tamat)

Saya jadi tergelitik buat membahasnya. Gini, dari interaksi saya dengan lingkungan saya di kampus dan masyarakat, saya meyakini nilai bahwa ngrokok itu tidak baik dan minum itu dilarang. Sejauh yang saya temui dimanapun saya bersosialisasi, rata-rata mereka sepakat dengan nilai moral ini. Hipotesis sementara saya: nilai moral berlaku pada lingkungan yang cukup atau bahkan sangat luas.

Tapi hipotesis saya terbantahkan pas saya ketemu sama sodara-sodara saya tadi. Di lingkungan keluarga yang harusnya jadi penjaga nilai moral utama atau role model, ngrokok bukan jadi masalah dan minum ga dilarang. Bahkan rokok dijadikan justifikasi bahwa seseorang dianggep gede kalo udah ngrokok, based on celetukan sodara saya,”udah gede qo ga ngrokok..”. Aneh, dunia jadi kebalik-balik. Saya, yang ga ngrokok, berarti belum gede dong?

Hipotesis saya perbaiki: Nilai moral ternyata berlaku sangat lokal. Agaknya benar kata peribahasa: Dimana langit dipijak, disitu langit dijunjung. Nilai moral yang saya anut berbenturan dengan nilai yang berlaku di lingkungan keluarga besar. Tentu saya ga sepakat, tapi di lingkungan ini mau nggak mau saya yang harus menyesuaikan.

Meski begitu kadang-kadang saya setuju ding. Tadi malem saya nonton Konser Seringai di AACC. Di tengah lagu yang judulnya Alcohol, Arian nantang penonton yang berani ngabisin bir sekali teguk. Suasana jadi panas. Ada satu yang maju. Arian nyuruh crowd buat nyemangatin. Tepuk serentak penonton membahana. Saya, sejenak lupa sama nilai moral saya, larut dalam koor. “Uoooo... habisin lae, habisin... bangsat lah kalean semua! Ini baru rock n roll!!!!”

Saya khilaf, haha, tapi menikmatinya.

baca juga udah gede qo nggak ngrokok (1)

Udah Gede Qo Nggak Ngrokok? (1)

Ini cerita pas lebaran kemaren, pas saya lagi kumpul sama sodara-sodara di Semarang. Udah agak lama sih, tapi masih relevan. Di suatu kesempatan, kita berame-rame dari keluarga papa piknik ke Bandungan – Jogja – Solo. Yang tua-tua pada punya kamar sendiri, begitu juga yang muda-muda. Jadilah kita yang muda-muda ini berkumpul di satu kamar.


Malemnya kita begadangan, main kartu, ketawa-ketawa. Buat saya ini sangat menyenangkan, soalnya kita bisa kumpul banyakan gini cuma kalo lebaran doang. Saat malem mulai larut, mulailah sodara-sodaraku yang kebanyakan cowok ini keluar alter egonya. Pertama cuma rokok, asep di sana, asep di sini. Lama-kelamaan keluar juga senjata rahasianya: sebotol JackD. Weww..


Pas rokok mulai disulut, ada satu sepupu yang paling kecil, SMA kelas 1, ditawarin rokok. Dianya ga mau. Kata mas-mas yang lainnya: Udah gede qo ga ngrokok? Sekali-dua kali rayuan ga mempan, tapi rayuan berikutnya pertahanannya luluh. Mulailah dia nyalain Marlboro Menthol. Asep jadi semakin tebel. Saya, yang emang ga ngrokok, ketawa-ketawa aja.


Berikutnya botol JackD dibuka. Kebetulan kita lagi main kartu. Aturan mainnya, yang kalah minum dikit. Deal, semua setuju kecuali saya, yang juga ga minum, sama kakak kandung saya dan sepupu yang paling kecil tadi. Seteguk demi seteguk orang yang kalah mulai minum, sampai tiba gilirannya ponakan saya yang kecil tadi kalah. Bingung dianya diminum apa ga. Tanya ke saya,”Gimana mas raka?” “Rak sah rak wes.” Hmm, tapi berhubung yang lain pada anteng aja minum, kayaknya dia kepengaruh. Mungkin pikirnya, “Kalau mas-mas aja pada minum, berarti aku boleh dong.” Jadilah dia ikut nyicip mimik jahat.


-bersambung-

30 Nov 2007

Sebuah Negeri Bernama Endonesia

Cerita ini saya dapet dari metroTV, pas peringatan Hari Pahlawan. Gini, kita punya negara yang namanya "Indonesia", semua pada tau lah ya. Negara yang umurnya udah 62 taun, penduduknya 200 jutaan, yang ga beranjak dari status negara sedang berkembang, dan embel-embel lain yang (menurut saya) lebih banyak negatifnya daripada positifnya.

Kita punya banyak ahli yang pinter banget memberi solusi buat nyelesaiin kasus bangsa. Ada yang jago nganalisis ekonomi, ada yang jago analisis politik, macem-macem lah. Sebagian dari kita, orang awam, percaya kalau solusi-solusi yang mereka tawarin bakal mampu membawa Indonesia jadi lebih baik. Sebagian lagi manggut-manggut entah ngerti entah atau nggak apa yang mereka omongin.

Cuman ada satu hal sepele yang mungkin kelewat dari pandangan semua rakyat Indonesia. Semua orang menyebut negara Indonesia dengan sebutan "Endonesia". "I" disebut "E", jadinya dilafalinnya "Endonesia" bukan "Indonesia". Bahkan reff lagu kebangsaan kita pun nyanyinya "Endonesia raya, merdeka.. merdeka.." Iya kan? Pernah tau ga ada orang nyebut Indonesia dengan sebutan "Indonesia". Saya sih belum pernah..

Jadi, kalau selama ini banyak orang berbicara tentang Indonesia, mendeskripsikan masalah bangsa, ngasi beribu solusi, itu semua salah sasaran. Yang mereka bahas itu sebuah negara antah-berantah yang namanya "Endonesia", sebuah negeri yang entah dimana adanya. Sementara negara kita sendiri, negara "Indonesia", ga pernah sekalipun kita perhatiin. Negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi ini ga akan pernah jadi makmur dan sejahtera, kalau ga ada yang mau peduli buat ngebangun.

Pepatah bilang perubahan harus dimulai dari diri kita sendiri, dari hal yang kecil dan dari sekarang. Sebelum kita sok nyelesaiin masalah "Indonesia", kita rubah dulu cara nglafalin nama negara kita, ga lagi "Endonesia" tapi "Indonesia". Sip2..

3 Nov 2007

Kasta Antarras Manusia

Weekend ini planologi ITB lagi ngadain seminar International Regional Science Association (IRSA). Intinya mah ini seminar gede-gedean berskala internasional yang dihadiri sama banyak praktisi dunia perencanaan, dalam dan luar negeri. Tamu asingnya ada dari Polandia, Korea, Australia sama banyak lagi. Kebetulan saya jadi panitia jadinya bisa ngamatin hal-hal aneh yang terjadi.

Salah satu yang saya liat, setiap ada tamu yang dateng panitia tiba-tiba jadi riweuh alias heboh sendiri. Pas si bule dateng buat daftar di meja registrasi, orang-orang jadi pada ngerubungin. Pada nanya-nanya, nawarin bantuan, blablabla. Anehh. Kalo yang dateng orang lokal ga pada heboh gitu tuh. Hmm kenapa coba?

Pertanyaan ini coba saya tanyain ke temen-temen himpunan. Ada yg jawab,”Mungkin karena kita jarang liat orang bule kali ya tinggi, besar, putih. Jadinya pas liat jadi pada penasaran”. Hmm, make sense. Yang lain bilang,”Mungkin Liaison Officernya ga pede kalo sendirian jadi ngajakin temen-temennya.” Bisa juga. Satunya lagi ngasi komentar,”Kita khawatir kali ya itu bule ga ngerti jadinya dipandu banyak orang” Aha rasa khawatir yang sungguh mengharukan..

Saya punya hipotesis sendiri. Menurut saya, mentally, sistem kasta berlaku pada hubungan antar ras manusia di dunia. Ada ras tertentu yang tingkatnya di atas ras lainnya. Dan untuk ras yang lebih tinggi, mereka memperoleh perlakuan yang “lebih” dari ras-ras di bawahnya. Dalam kasus kita, ras yang berada di atas adalah ras bule tadi, sedangkan kita orang Indonesia adalah ras yang berada di bawahnya. Sebagai sudra kita sudah selayaknya memberi perlakuan istimewa kepada kaum brahmana. Hehe, ngawur ya? Tapi paling nggak hipotesis saya terbukti pada kasus registrasi IRSA saya ceritain.

Walau sulit untuk mengakuinya, tapi secara ga sadar dalam banyak hal kita memang selalu mengacu pada dunia barat. Sebagai negara sedang berkembang, kita bermimpi suatu saat kita bisa menikmati hidup selayaknya negara maju. Barat adalah surga dan Timur adalah petaka. Keinginan yang ga kesampaian ini menciptakan hubungan slave-master antara negara maju dan negara berkembang yang dimanifestasikan dengan sikap “ngawula” orang kita manakala berhubungan dengan orang bule. Wah wah qo saya ngomongnya jadi kemana-mana gini, hehe.

Moral of the story yang ingin saya sampaiin adalah kita sebagai orang Timur yang bermartabat tidak seharusnya merasa inferior apabila berhadapan dengan orang bule. Sejelek-jeleknya kita, ini negara sendiri bung! Dan kita harus bangga dong. Kalau memang pingin maju,we must stand in our own feet. Aduh, aduh, saya berasa jadi mau berangkat perang, hahaha. Yasudlah sekian dulu, pamit, pareng…



22 Oct 2007

Selamat Idul Fitri

rakawhisnu.blogspot.com mengucapkan:
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

keep readin' and enjoy. Thanx

27 Sept 2007

Indonesia (Bukan) Negara Maritim

Indonesia negara maritim, begitu kata banyak orang. Beberapa fakta di lapangan menunjukkan bahwa kita memang layak disebut negeri bahari. Ini beberapa diantaranya:
  • Kerajaan Sriwijaya dahulu kala adalah kerajaan terbesar di Asia Tenggara yang mahsyur karena ketangguhan armada lautnya.
  • 2/3 wilayah Indonesia berupa perairan.
  • Garis pantainya mencapai 18.000 km, terpanjang kedua setelah Kanada.
  • Keanekaragaman laut kita pun diyakini merupakan salah satu yang terlengkap di dunia.
Dengan track record dan potensi yang luar biasa, seharusnya Indonesia mampu menjadi pemimpin dalam dunia maritim. Namun alih-alih merintis kembali kejayaan masa lampau, kita justru dikangkangi negara lain yang seenaknya masuk ke kedaulatan RI untuk mengeruk kekayaan laut kita. Kita pun hanya bisa puas bernostalgia.

Hal ini terjadi karena kita tidak pernah benar-benar serius menggarap sektor kelautan. Pembangunan kita masih berorientasi ke kontinental alias daratan. Lihat saja berapa investasi yang dikucurkan per tahunnya untuk membangun gedung bertingkat dan industri manufaktur, dibandingkan investasi yang masuk ke sektor kelautan. Anggaran TNI pun mayoritas dialokasikan ke Angkatan Darat, bukan Angkatan Laut yang harusnya menjadi garda keamanan terluar.

Paradigma daratan ini berawal dari dunia pendidikan kita yang tidak memberi tempat kepada pengetahuan kemaritiman. Anak SD diajari lagu ""Nenek Moyangku Seorang Pelaut", itu saja. Kalaupun ada materi yang membahas kelautan Indonesia, porsinya sangat kecil dibanding materi yang mengacu ke daratan. Contoh sederhana, pas kita diajari menggambar, gambar apa yang mereka ajarkan?

Saya berani taruhan, mayoritas orang akan menggambar: Gunung dengan sawah dan matahari.

Kenapa bukan laut? kenapa bukan ikan? kanapa bukan terumbu karang?

Akhirnya, di sela-sela kuliah PPKn yang ga jelas, saya pun menggambar apa yang pernah ibu guru ajarkan kepada saya. Gunung dengan sawah dan matahari.


nb: trima kasih buat mega yang udah minjemin pinsil warnanya
trima kasih juga buat cew SR hitam manis misterius yang buat saya semangat kuliah PPKn ;-)

22 Sept 2007

Pelacur Murah dari XL



Udah pernah liat iklan terbarunya XL blom?
Pesan yang pingin disampaiin kira-kira nelpon pake XL sekarang bayarnya cuma 1 rupiah per detik, yang artinya murah banget. Nah tapi herannya kenapa dia harus pake cewek sexy buat neranginnya. Terkesan vulgar dan ga kreatif. Memancing orang untuk menengok--menengok cew sexynya tentu saja-- trus liat tulisan di dadanya "Rp 1/detik". Itupun kalau matanya sehat. Kalo udah minus bisa-bisa keliru baca jadi Rp. 10/detik, hehe

Saya sendiri nangkepnya, ada cew bohai yang menjual diri dengan harga Rp1/detik. Coba kita hitung, kalo sedetik 1 rupiah, sejam pelacur itu bisa ditebus dengan uang Rp.3600!
Lalu coba kita bandingin dengan harga WTS di Kota Semarang. Kata temen saya untuk nebus cew di Om Thomas (mucikari-red) kita harus keluar duit minimal Rp.50ribu. Dan bisa dipastikan, cew-cew asuhannya Om Thomas pasti kalah nendang sama si mbak di iklan XL tadi. Sementara dengan duit 50ribu tadi, kita bisa bayar 13 cew iklan XL itu. Hebat kan! ibarat kejatuhan durian runtuh kata peribahasa. Saya yakin ga da satu lokalisasi pun yang bisa
jual pake harga segitu. Andaikata XL adalah usaha prostitusi dan barang-barangnya sebagus dan semurah itu, waah bisnis prostitusi se-Indonesia bisa gulung tikar smua!

Iklan ini begitu stuck di pikiran saya, karena setiap kali saya lewat jalan pulang ada baligho sgede gaban iklan ini yang membuat saya terpancing buat nengok, dan menelan ludah. Sungguh mengganggu iman saya yang lagi puasa! ;-)

6 Sept 2007

Polisi Ternyata Bisa Hebat Juga Ya

Menurut saya, dan mungkin menurut banyak orang lainnya, polisi adalah aparat keamanan negara yang lebih banyak menyusahkan daripada mendatangkan manfaat. Ga bisa digeneralisir sih, tapi sering kita dengar “kiprah” polisi kelas teri yang cari duit dengan membebaskan pelanggar lalu lintas setelah diberi uang damai sampai polisi kelas kakap yang jadi beking judi dan illegal logging. Well, lagi sakit tampaknya pengayom masyarakat kita ini.

Namun ditengah buruknya citra polisi dimata masyarakat, ada juga prestasi yang bisa mereka hasilkan. Begini ceritanya, selama ini kalau kita hendak mengurus SIM, kita harus melewati prosedur berbelit di Samsat, yang saya rasa memang disengaja agar polisi dapat meraup keuntungan melalui calo yang berkeliaran. Kesel memang, tapi itulah fakta yang terjadi. Akhirnya daripada repot mengurus, pakai tes dan belum tentu lulus, masyarakat cenderung memilih menggunakan jasa calo, meskipun untuk itu biaya yang dikeluarkan menjadi lebih besar. Klop sudah. Keculasan polisi berpadu dengan kemalasan masyarakat menembus birokrasi rumit.

Hal ini tentu saja menjengkelkan saya yang hendak mengurus SIM yang hilang. Harga yang diminta calo sebesar 120ribu. Sialan, bukannya ga mampu bayar, tapi masa’ saya harus merelakan uang ke tangan calo?! Nggak, lah! Namun selang beberapa waktu ketika saya mengurus mobil yang ditahan (ceritanya saya ditabrak motor, trus mobil nginep di polres), saya baca kalau ngurus perpanjangan atau kehilangan SIM bisa di Polres, ga harus di Samsat. Oh ya? Hebat dong kalau gitu.

Saya lalu iseng tanya gimana caranya. Kata si bapak polisi baik yang jaga: tinggal ambil formulir, diisi, dibalikin, tes kesehatan, difoto, cap ibu jari sama tanda tangan, tunggu bentar, jadi. Masa iya sesimpel itu? Saya liat dulu orang-orang yang buat SIM, ternyata emang cepet. Saya pun mengikuti petunjuk si bapak: ambil formulir, diisi, dibalikin, tes kesehatan, difoto, cap ibu jari sama tanda tangan, tunggu bentar. Sepuluh menit kemudian SIM saya jadi! Waaaaaa hebaaaat!

Two tumbs up lah buat polisi. Udah cepet, ga pake calo, lebih murah lagi. Cepet karena birokrasinya sederhana dan belum banyak yang tau. Ga pake calo karena prosedurnya transparan. Murah karena ga pake calo. Go to hell para calo itu. Cari mata pencaharian lain sana. Buat polisi: pertahankan prestasinya. Buat gebrakan lain yang bisa memenangi hati masyarakat, supaya peran sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat (www.polri.go.id) yang diikrarkan benar-benar menjadi kenyataan.

Real Madrid 2 – 1 Atletico Madrid

Mulai edisi ini saya bakal menampilkan hasil pertandingan Real Madrid di semua kompetisi yang diikutinya. Ya, saya memang penggemar berat Real Madrid. Bahkan bagi saya, hanya ada dua klub di dunia, Real Madrid dan Klub lainnya. Saya cinta mati dan saya tidak keberatan melakukannya.

Pada pertandingan pertama La Liga, Madrid langsung menghadapi musuh besar Atletico Madrid. Derby ibukota ini menjadi ujian pertama pelatih baru Bernd Schuster. Partai ini juga menjadi penampilan pertama pemain-pemain baru Madrid di pertandingan resmi.

Madrid tampil penuh percaya diri. Hasil buruk di Piala Super Spanyol melawan Sevilla beberapa waktu yang lalu ga nampak sama sekali kali ini. Madrid berhasil menyuguhkan permainan ofensif, suatu hal yang gagal diberikan Fabio Capello musim lalu sehingga dirinya didepak meski berhasil mendatangkan gelar juara liga. Serangan-serangan yang dibangun penuh variasi, kayak Madrid pas ditangani Del Bosque. Atletico main bagus sebenarnya, tapi Madrid main jauh lebih bagus, hehe.

Sempat ketinggalan terlebih dahulu oleh gol cepat Kun Aguerro, Madrid bermain tenang mengontrol serangan. Akhirnya di babak kedua kapten tim Raul Gonzales berhasil menyamakan kedudukan melalui tandukannya. Lewat sebuah set piece matang, Wesley Sneijder mengubah skor menjadi 2-1. Skor ini bertahan hingga peluit akhir dibunyikan. Madrid menang, eh menjumpai takdirnya sebagai tim pemenang. Start yang bagus. Semoga berlanjut di partai-partai selanjutnya.

4 Sept 2007

Bienvenudo, La Liga

-mode menulis serius on-


Liga Spanyol bergulir kembali. Liga yang diklaim sebagai liga paling kompetitif di dunia ini bakal kembali menampilkan aksi-aksi memikat maestro sepakbola dunia. Bukan sembarangan menyebut La Liga sebagai liga terbaik. Musim lalu saja, juara liga masih belum diketahui hingga 10 menit terakhir pertandingan pamungkas. Tiga tim teratas Barcelona, Real Madrid dan Sevilla sama-sama berpeluang menjadi juara. Akhirnya kita tahu bahwa Real Madrid keluar sebagai pemenang. Drama yang menegangkan ini menjadi bukti sahih bahwa Liga Spanyol sangatlah ketat dimana setiap tim punya peluang untuk memenangi pertandingan, meski tim kecil sekalipun.

Sesuai tradisi, dua raksasa La Liga, Real Madrid dan Barcelona masih dijagokan sebagai kandidat kuat juara. Persaingan abadi yang telah berumur puluhan tahun selalu ditunggu para pecinta bola. Aktifitas keduanya di altas-bajas alias bursa transfer menjanjikan skuad yang lebih menggigit daripada musim lalu. Barcelona berhasil mendatangkan kapten sekaligus pangeran Arsenal Thierry Henry dan Eric Abidal, palang pintu tangguh Lyon. Sedangkan Madrid sukses memboyong trio Belanda Arjen Robben, Drenthe, Wesley Sneijder; Javier “El Canejo” Saviola dan Jerzy Dudek sebagai pelapis Iker Casillas. Bersiap-siaplah menyaksikan pertarungan dua tim eksplosif ini.

Persiapan tim-tim lain juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Atletico Madrid, Sevilla dan Valencia akan mengganggu usaha Madrid dan Barcelona meraih mahkota. Bukan tidak mungkin mereka mengambil kesempatan memimpin klasemen, atau bahkan menjuarai liga. Atletico Madrid mengambil langkah mencengangkan dengan melego ikon mereka Fernando Torres ke Liverpool dan mendatangkan Diego Forlan dan Jose Antonio Reyes sebagai gantinya. Perpaduannya dengan Sergio “Kun” Aguerro, bintang masa depan Argentina yang tampil mengkilap di Copa America lalu, bakal menjadi kekuatan dahsyat. Valencia dan Sevilla tetap menebar ancaman meski tidak terlalu aktif dalam jual-beli pemain. Berbekal tim yang stabil dan tangan dingin pelatih, dua tim ini siap meramaikan persaingan papan atas.

Well, tidak afdol rasanya kalau saya berpanjang-panjang bercerita. Toh liga juga udah jalan satu pertandingan. So, ladies and gentlemen, mari kita saksikan, liga terpanas di dunia, here it is, La Liga!

23 Aug 2007

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA!

Pastikan saya, kamu, kita semua ada dalam barisan, membangun Indonesia mencapai kemerdekaan yang sesungguhnya



21 Aug 2007

Kru Semarang Pesona Asia


Baris bawah dari kiri: Saya, Mbak Lila, Mbak Desi, Mas andi, Mbak Widya, Mr. Rere
Baris atas dari kiri: Mas Junanto, Mrs. Perrine, Mbak Indri, Mas Ajar

This is it, the end of a journey. Thanks, and see you!



Jreng Jreng Jreng Jreng, Hadirin Semua, Inilah Semarang! (Part 2)

Plong sudah kekhawatiran kami atas acara pembukaan yang dikira bakal semrawut. For your information, undangan yang kami kirim formatnya sempet ditolak protokoler kepresidenan dan dinyatakan tidak berlaku! Konsekuensinya kita harus bikin baru. Lha edan wae, waktunya tinggal lima hari disuruh ngirim undangan ke pelosok Indonesia. Bayangan kami, bakal ada ribuan orang yang kecewa gagal masuk karena membawa undangan lama. Bisa rusuh, bung! Namun hal tersebut tidak terjadi. In late minutes, ada kebijakan yang memperbolehkan undangan lama dipakai. Huff...

Setelah semua tamu pulang, kami foto-foto dulu di panggung. Ada yang bareng Bu Harini dan Pak Kawi! Jarak saya sama Pak Kawi cuma sepanjang tangan orang dewasa. Kalo saya bawa pisau sudah saya tusuk, hehe ga ding, becanda. Saya sudah ikhlasin qo.

Kita kembali ke counter desk di Hotel Ciputra dengan senyum lebar. Disana Mbak Lila menyambut anak-anaknya dengan pelukan. Happy ending nih ye. Kerja keras kami selama dua setengah bulan terakhir lunas sudah. Tamu yang datang banyak, ga peduli kalau ternyata orang Semarang semua. Buat tim emergency yang dibentuk dadakan, hasil ini sudah maksimal. Andaikata persiapannya lebih panjang, pasti bakal lebih OK :)

Kalau pun ada yang saya sesalkan adalah rangkaian acara SPA lainnya yang ga booming. Sambutannya adem-adem aja. Turis juga ga banyak. Kurang promosi deh kayaknya. Masih jauh kalau mau saingan sama Singapura dengan Uniquely Singapore-nya atau Malaysia dengan Visit Malaysia 2007. Tapi gapapa. Kalau even ini bisa rutin, tiga-empat tahun ke depan Semarang bisa jadi alternatif destinasi wisata turis Asia. Semoga. Sampai jumpa di SPA 2008!

baca juga part 1

Jreng Jreng Jreng Jreng, Hadirin Semua, Inilah Semarang! (Part 1)


Tanggal 9 Agustus 2007, perhelatan akbar Semarang Pesona Asia dibuka. Ga tanggung-tanggung, yang meresmikan first man negeri ini alias Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saya lihat dengan mata kepala sendiri detik-detik kedatangan SBY. Dari arah Jl. Pahlawan satu mobil foraider melesat membuka jalan. Mobil foraider kedua muncul memperingatkan massa untuk tidak lagi menyeberang karena sebentar lagi mobil Presiden lewat. Sejurus kemudian Mercy hitam anti peluru berplat nomor RI 1 melintas di depan saya. Sejenak keadaan menjadi hening, SBY membuka kaca jendelanya dan melambaikan tangan kepada massa yang berkerumun. Charm SBY sebagai presiden benar-benar terasa. Saya melongo. Anjirr, Saya liat SBY langsung, Bung! Kereen!

SBY datang, acara dimulai. Paulus Surya Orkestra mengalunkan lagu-lagu nasional dengan sangat apik. Berturut-turut Pak Kawi, walikota Semarang yang ... ah sudahlah; Pak Mardiyanto Gubernur Jawa Tengah dan SBY memberikan sambutan. Blablablabla intinya acara ini baik dan patut ditiru daerah lain.

Baru setelah itu pentas musik dan tari digelar. Untuk kota sekelas Semarang yang ga ada namanya di dunia seni Indonesia, tari-tarian yang dibawakan terasa istimewa. Kombinasi gerak dan lagu dari berbagai negara Asia disajikan dengan megah, dipadu dengan lighting yang indah serta kostum yang ”serius”. Citarasanya berkelas. Poin lebih saya berikan buat Rampak Kenthong Banyumas dan Tari Seribu Tangan yang rancak dan mengundang decak kagum. Rampak Kenthong ini rencananya juga akan mengisi acara penurunan bendera di Istana Negara pada upacara HUT RI nanti.

Apresiasi juga patut diberikan kepada grup vokal Christopher Abimanyu. Mereka menyanyikan lagu-lagu kebangsaan macem Rayuan Pulau Kelapa n Indonesia Raya dengan suara yang woawoawoa, aduh apa sih namanya ga tau, yang kayak Il Divo pokoknya. Menggetarkan hati. Ternyata ada yang bisa nyanyi kayak gitu di Indonesia. Baru tau. Tapi katanya mereka terkenal lho. Apa saya yang kuper ya? You should watch it lah.

Jam 9 teng acara selesai. Mulai tepat waktu, selesai tepat waktu. Wow, ada apa gerangan orang-orang pada bisa disiplin? Lha mbok ya kayak gini tiap hari.

5 Aug 2007

Saya dan Semarang Pesona Asia (Closing)

Even tinggal 3 hari lagi. Saya tetap melaksanakan pekerjaan saya sebagaimana mestinya dan tetap mendoakan yang terbaik bagi kota kelahiran saya. Saya mau titip pesan buat walikota saya:

Pak Kawi, catet baik-baik, nama saya Raka Whisnu. Nomer KTP saya 33.7407.080686.0001. Kalau nanti Bapak maju di Pilgub Jateng Bapak dipastikan kehilangan satu suara dari saya. Saya akan menjadi orang pertama yang pasti tidak akan memilih Bapak.

Ada satu hikmah yang bisa saya ambil dari peristiwa ini. Ternyata berlaku seperti itu tidak mengundang simpati orang melainkan hujatan. Kalau saya jadi walikota nanti saya janji tidak akan mengulangi hal bodoh serupa. Kalau lupa nanti saya diingetin ya hehe..

baca juga foreword, part 1, part 2, part 3, part 4

Saya dan Semarang Pesona Asia (Part 4)

Man, ternyata bersikap mulia ga cukup untuk menjalani hidup. Dari kasak-kusuk yang saya dengar, saya dapat informasi bahwa Semarang Pesona Asia adalah kepentingan pribadi Pak Wali sebagai cara untuk mempromosikan dirinya dalam Pemilihan Gubernur Jawa Tengah 2008 nanti. Anjing! Bangsat betul itu orang! Setelah saya bekerja dengan tulus buat Semarang tercinta, ternyata ada tujuan tersembunyi dibalik itu semua. Jujur saja saya sangat kecewa. Bukan kenapa-kenapa. Politik emang kejam, tapi caranya jangan sekasar ini dong. Masa pake duit APBD buat kampanye terselubung. Sadist.

Saya jadi menghitung-hitung jerih payah saya, hal yang sebelumnya saya kesampingkan. Saya kerja sampai malam, ga ada uang lembur, bahkan hari sabtu-minggu harus masuk, bayaran ga seberapa, kena flu malah. Keterlaluan banget ni orang. I’m off. Saat ini saya meneruskan pekerjaan saya, hanya buat Bu Harini yang temennya ibu saya dan Mbak Lila yang banyak direpotkan sampai sempet tifus segala.

Saya ga menyesali kehadiran saya di sini. Saya ga akan menyesal untuk manusia murahan macam Pak Wali dan “staf khususnya” di ruang sebelah yang cuma bisa telpon pake duit negara. Mereka sampah, saya bukan. Kita beda, and it is enough for me.

baca juga foreword, part 1, part 2, part 3